Sesungguhnya tak ada yang benar-benar siap menghadapi kematian. Cerita duka akrab terukir dalam hidup Apta Bayu Cokroaminoto. Dimulai dari kepergian sang ibu yang membuatnya hancur berkeping-keping Kabar kematian semakin akrab mengepung, seperti berdesakan merebut perhatian, mata, pikiran, dan hatinya. Duka kembali hadir saat Tujuh Raga harus berpisah ketika ombak besar Banyuwangi datang men…
Perihal kematian hanya Tuhan yang tahu. Namun, jika kehilangan karena kematian terus-menerus dihadapkan. Siapa yang berani berteriak 'ikhlas? Gelombang tsunami merenggut lima raga tanpa permisi, berpura pura berterima atas kehilangan adalah hal yang harus Bapak, Khalid, dan Dewangga jalani. Hingga suatu waktu datang sebuah surat yang membuat Bapak sadar jika raga yang hilang yaitu Apta masih h…
Deskripsi Prolog: Tahun 1994 adalah tahun paling menyakitkan bagiku. Bahkan, bagi warga di kampungku. Kejadian yang tak disangka kehadirannya merenggut banyak senyum dan kebahagiaan. Aku yang keras kepala dan egois seperti Pada peristiwa 2 Juni 1994, aku mendapat balasan atas semua perbuatanku. Malam itu riuh suara air naik dengan cepat ke daratan, teriakan, jeritan, dan reruntuhan baran…
Ternyata, dibalik setiap perbuatan, selalu ada balasan. Bapak tidak pernah menyangka jika hidup dalam rasa penyesalan yang begitu besar akan sangat menyakitkan. Dan justru, sesuatu yang paling menyakitkan itu bukan lah KEHILANGAN karena kematian. Tetapi, saat Bapak harus menjalani hari-hari setelah KEHILANGAN itu sendiri. Hanya dua dari ketujuh putranya yang selamat. Bapak seperti diberi…